SEMANGAT KERJA PARA BLOGGER

Tampilkan postingan dengan label Survey Lapangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Survey Lapangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2010

PELABUHAN GILIMANUK

Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk sebagai pelabuhan yang menghubungkan dua buah pulau yang cukup padat yaitu pulau Bali dan pulau Jawa merupakan pintu masuk dan keluar yang penting bagi lalu lintas pariwisata maupun ekonomi bagi kedua buah pulau. Bagi pulau Bali sendiri, pelabuhan Ketapang – Gilimanuk merupakan pintu utama bagi lalu lintas barang dan jasa yang masuk dan keluar pulau Bali, baik itu yang berupa komoditas pangan seperti buah dan sayur, komoditas kerajinan, bahkan juga sebagai pintu utama bagi wisatawan yang ingin ke Pulau Dewata selain melalui Bandara Ngurah Rai.

Pelabuhan Ketapang - Gilimanuk merupakan BUMN di bawah departemen Perhubungan Republik Indonesia, kegiatan utama dari pelabuhan ini adalah jasa penyeberangan antara pulau Bali dan Jawa yang merupakan bagian dari kegiatan Angkutan Sungai Dan Penyeberangan (ASDP). Sehingga tidak terdapat aktivitas peti kemas barang atau pengepakan barang (cargo) pada pelabuhan ini. Karena pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang saling berpasangan, maka apabila ada salah satu pelabuhan yang tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya, akan memberikan dampak bagi aktivitas pelabuhan yang lain sehingga mengakibatkan terganggunya aktivitas penyeberangan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, perawatan dan pemeliharaan segala bagian dari pelabuhan ini sangatlah perlu dilakukan guna menjaga kelancaran aktivitas penyeberangan antara ke dua pulau ini. Dengan banyaknya kapal yang masuk karena berkembangnya lalu lintas angkutan laut, teknologi, keamanan, meningkatnya penumpang antar pulau, maka kualitas peran dan fungsi pelabuhan perlu ditingkatkan salah satunya dengan cara pengoptimalan pelayanan jasa Terminal Penumpang maupun fasilitas-fasilitas penunjang lain yang terdapat di pelabuhan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa kepelabuhan, pelabuhan Ketapang - Gilimanuk berusaha sebaik mungkin untuk mengoptimalkan pelayanan jasa Terminal Penumpang yang mengacu kepada standar nasional dan standar internasional. Standar itu terkait dengan kelengkapan peralatan, keamanan, ketersediaan infrastruktur, dan kedalaman alur serta kolam pelabuhan bagi bersandarnya kapal-kapal. Untuk itu perlu penyediaan fasilitas dan pelayanan jasa Terminal Penumpang yang baik agar dapat memberikan kepuasan kepada para pengguna jasanya.

Pengenalan Pelabuhan Gilimanuk

Pelabuhan Gilimanuk mulai mengalami perkembangan dari tahun 1983 sampai 1996. Pelabuhan Gilimanuk merupakan pelabuhan penyeberangan yang dikelola oleh perusahaan BUMN yaitu PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan berada di bawah Departemen Perhubungan. ASDP sendiri adalah singkatan dari Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan. Pelabuhan ini dikelola ASDP karena termasuk ke dalam penyeberangan darat. Pelabuhan ini terletak di desa Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Pelabuhan ini sebenarnya bernama resmi Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk karena operasional pelabuhannya harus bersamaan dan tidak dapat bekerja sendiri-sendiri. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan alami yang tidak perlu dilakukan pendalaman.

Fasilitas Pelabuhan Gilimanuk

Pelabuhan Gilimanuk memiliki luas areal kurang lebih 4 hektar. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di Pelabuhan Gilimanuk antara lain :

- Dermaga Movable Bridge (MB) sebanyak 2 buah

- Dermaga ponton sebanyak 1 buah

- Dermaga Landing Craft Machine (LCM) sebanyak 2 buah

- Tempat parkir pengunjung dan tempat parkir siap muat ke dermaga seluas 900 m2

- Terminal Penumpang

- Kantor Operasional Pelabuhan

- Ruang VIP

- Ruang Tunggu

- Jembatan Timbang (namun kini tidak dapat beroperasi lagi)

Selain itu terdapat pula fasilitas berupa 34 unit CCTV untuk memonitor keadaan pelabuhan.



Dermaga Pelabuhan Gilimanuk

Pelabuhan Gilimanuk memiliki 5 buah dermaga yang terdiri dari 2 buah dermaga MB, 1 buah dermaga ponton, dan 2 buah dermaga beton (LCM).

a. Dermaga Movable Bridge (MB)

Pelabuhan Gilimanuk memiliki dua buah dermaga movable bridge, yaitu dermaga MB I dan MB III. Dermaga Movable Bridge merupakan dermaga yang dapat digerakkan turun naik dengan bantuan mesin hidrolik. Jadi ketinggian dermaga ini dapat disesuaikan dengan ketinggian landasan kapal. Pada mesin pengendali hidrolik terdapat 3 tombol, yaitu Hidrolic Up (untuk menaikkan dermaga), Hidrolic Down (untuk menurunkan dermaga), dan tombol emergency. Dermaga MB ini dibangun pada tahun 1996. Dermaga ini memiliki kemampuan menahan berat 20 ton.

Gambar 1. Dermaga MB pelabuhan Gilimanuk


Gambar 2. Mesin pengendali hidrolik

Gambar 3. Proses bongkar muatan pada Pelabuhan Gilamanuk

b. Dermaga Ponton

Pelabuhan Gilimanuk memiliki sebuah dermaga ponton yaitu Ponton II. Dermaga ponton merupakan dermaga yang terbuat dari drum terapung atau landasan kayu yang dibuat sedemikian rupa. Dermaga ponton ini dibangun pada tahun 1976. Dermaga ini memilki kemampuan menahan berat sebesar 10 ton.

Gambar 4. Dermaga Ponton


c. Dermaga Landing Craft Machine (LCM)

Pelabuhan Gilimanuk memiliki dua buah dermaga LCM yaitu, Dermaga LCM IV. Dermaga LCM merupakan dermaga yang terdiri landasan beton tanpa adanya perangkat tambahan, sehingga kapal dapat menambat tanpa diperlukan adanya perangkat tambahan seperti bolder dan fender. Dermaga ini memiliki kemampuan menahan berat diatas 20 ton. Kapal yang biasa berlabuh disini adalah kapal LCT dan kapal motor penumpang.

Gambar 5. Dermaga LCM


Aktivitas Operasional Pada Pelabuhan Gilimanuk

Pelabuhan Gilimanuk beroperasi selama 24 jam setiap hari kecuali pada hari raya Nyepi. Aktivitas operasional pelabuhan ini harus sejalan dengan aktivitas operasional yang terdapat di Pelabuhan Ketapang karena jika salah satu dari pelabuhan tidak dapat beroperasi akan mempengaruhi aktivitas di pelabuhan pasangannya. Adapun pembagian jadwal untuk masing-masing armada sebagai berikut,

  • Angkutan normal bongkar dari suatu kapal dibatasi hanya 15 menit.
  • Angkutan normal muat dari suatu kapal dibatasi hanya 15 menit.
  • Waktu persiapan yang disediakan untuk masing-masing kapal dibatasi selama 15 menit.

Jadi apabila suatu kapal tidak dapat menyelesaikan aktivitas bongkar, muat, dan persiapan yang telah diberikan, maka kapal itu akan diberikan sanksi bagi armada yang bersangkutan.

Bolder pada Pelabuhan Gilamanuk

Bolder adalah perangkat pelabuhan untuk menambatkan (tambat) kapal di dermaga atau perangkat untuk mengikatkan tali di kapal. Bolder pada semua dermaga di Pelabuhan Gilimanuk terbuat dari besi cor dan diangker/ ditanamkan pada pondasi dermaga sehingga mampu untuk menahan gaya yang bekerja pada penambatan kapal di dermaga.

Tabel 1. Jumlah Bolder pada tiap Dermaga pada Pelabuhan Benoa

No.

Dermaga

Jumlah Bolder

(buah)

1

Dermaga MB I

6

2

Dermaga MB III

6

3

Dermaga Ponton II

2

4

Dermaga LCM

0

Total Jumlah Bolder

14

Sumber : Hasil Pengamatan



Gambar 6. Bolder pada Dermaga MB Pelabuhan Gilimanuk


Gambar 7. Bolder pada Dermaga Ponton Pelabuhan Gilimanuk


Fender Pelabuhan Gilimanuk

Fender adalah perangkat yang digunakan untuk meredam benturan yang terjadi pada saat kapal merapat ke dermaga atau pada saat kapal yang sedang di tambatkan bergoyang oleh gelombang atau arus yang terjadi di pelabuhan. Fender di Pelabuhan Gilimanuk menggunakan penahan baja dengan lapisan karet dibelakangnya untuk menahan gaya benturan kapal. Lapisan karet ini berbentuk trapesium.


Tabel 2. Jumlah Fender pada tiap Dermaga pada Pelabuhan Benoa


No.

Dermaga

Jumlah Fender

(buah)

1

Dermaga MB I

5

2

Dermaga MB III

5

3

Dermaga Ponton II

2

4

Dermaga LCM

0

Total Jumlah Bolder

12



Gambar 8. Fender pada Dermaga MB Pelabuhan Gilimanuk


Gambar 9. Fender pada dermaga ponton Pelabuhan Gilimanuk

Senin, 08 Juni 2009

Instalasi Pengolahan Air Limbah - Suwung

TINGKAT PELAKSANAAN PROYEK

Apabila tidak terdapat perubahan apapun dalam pelaksanaannya, proyek ini diharapkan dapat melayani cakupan area seluas 1.199 ha (yang meliputi Denpasar 502 ha, Sanur 331 ha, dan Kuta 348 ha).

Adapun masyarakat yang dapat terlayani diperkirakan berjumlah 103.200 jiwa (masing-masing Denpasar 73.700 jiwa, Sanu 16.500 jiwa dan Kuta 13.000 jiwa), melalui pekerjaan yang akan dilaksanakan berupa

  • Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas pengolahan 51.000 m3/hari
  • Jaringan pipa air limbah (diamater 200 -1200 mm) dengan panjang total 131.120 km.
  • Rumah pompa di Sanur & Kuta
  • Sambungan Rumah (SR) sebanyak 10.000 unit.

Sampai dengan saat pencanangan dimulainya pembangunan proyek oleh Presiden, kegiatan yang telah dilaksanakan baru terbatas pada kegiatan Jasa Konsultan yang telah menelan biaya sebesar 486,14 juta Yen, sedangkan paket-paket kegiatan Konstruksi masih dalam proses.

Hal terpenting yang telah melegakan ialah dimulainya proyek ini (masih terlambat), sepenuhnya mendapat dukungan dari Gubernur Bali, Bupati Badung, Walikota Denpasar serta seluruh lapisan masyarakat, terutama yang terkena dampak pembangunan proyek ini.

SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH

Air limbah dari WC, kamar mandi dan dapur disalurkan melalui pipa yang dihubungkan dengan jaringan pipa air limbah menuju IPAL.

Penggalian dan pemasangan pipa air limbah mempergunakan metode yang sudah memperhitungkan segala aspek yang berhubungan dengan keamanan dan ketidaknyamanan, sehingga gangguan yang mungkin ditimbulkan selama pelaksanaan pemasangan pipa dapat ditekan seminimal mungkin.

Beberapa metode yang diterapkan dalam konstruksi pemasangan pipa air limbah yaitu:

  • Sistem galian terbuka tanpa turap penahan.
  • Sistem galian terbuka dengan turap kayu/baja/sheeting plate.
  • Sistem "Jacking", yang digunakan untuk perlintasan sungai, jalan yang padat lalu lintasnya dan galian yang dalam.

Pada pelaksanaan konstruksi diterapkan metode Clean Construction yaitu tanah bekas galian langsung dimuat ke dalam truck diangkut menuju stock yard (tempat penampungan).

Penggalian dengan excavator dan langsung
dimuat ke dalam truck

Pemasangan pipa tanpa turap

Pemasangan pipa dengan turap (Sheeting Plate)

Pemasangan pipa dengan sistem jacking


Setelah pipa terpasang, jalan yang telah digali dikembalikan dan diaspal lagi seperti semula (seperti kondisi sebelum digali).

Proses pemadatan bekas galian pipa

Pengaspalan pada bekas galian pipa


Pengaturan lalu lintas sangat penting dalam proyek ini mengingat pemasangan pipa dilakukan di jalan yang umumnya padat lalu lintas. Pengaturan arus lalu lintas dilakukan melalui kerjasama dengan Dinas Perhubungan/DLLAJ, Kepolisian dan bahkan dengan anggota masyarakat.

Pada pengaturan ini disiapkan beberapa fasilitas kelengkapan seperti papan peringatan lalu lintas (sign board), pembatas area kerja yang terbuat dari seng (fence), plastic cone, lampu putar dll.


Rambu-rambu lalu lintas untuk memperlancar
dan mengurangi kemacetan lalu lintas

Petugas pengatur lalu lintas berseragam,
dilengkapi dengan bendera dan alat komunikasi


Panjang pipa yang akan dipasang pada Tahap I ini adalah:

Wilayah Layanan

Tahap I

Denpasar

68,00 km

Sanur

32,40 km

Legian-Seminyak

21,70 km


SAMBUNGAN RUMAH

Sambungan Rumah meliputi jaringan perpipaan yang akan menyalurkan air limbah dari Kamar Mandi, WC, Tempat Cuci, Dapur dll menuju House Inlet (bak kontrol) yang dibangun di halaman depan rumah pelanggan.

Dari House Inlet ini, air limbah kemudian dihubungkan / disalurkan dengan pipa PVC ke pipa sewer yang ada di jalan.

1. Limbah Rumah Tangga

2. Bak Kontrol Limbah


3. Lateral Sewer

4. House Inlet

5. Main Hole

House Inlet akan berfungsi sebagai bak kontrol bagi pemeliharaan saluran air limbah dari pelanggan (rumah-tangga, Hotel, Restoran, Perkantoran dll), sehingga memudahkan apabila terjadi sumbatan dll.

House Inlet (Bak Kontrol) dan Pemeliharaannya di halaman rumah.


Untuk pemenuhan kebutuhan estetika dari para pelanggan DSDP yang sudah tidak lagi memiliki halaman, House Inlet ini dibangun dengan menyesuaikan tuntutan di lapangan agar tidak mengganggu kenyamanan pelanggan.

House Inlet di daerah pertokoan Denpasar, menyesuaikan dengan kondisi / kebutuhan awal


Sistem pengolahan air limbah DSDP ini menggunakan sistem kolam aerasi dan kolam sedimentasi. Sistem aerasi digunakan dengan maksud untuk mengurangi kebutuhan luas lahan dan meningkatkan proses pengolahan menjadi lebih cepat sekaligus meniadakan bau yang mungkin timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna.

Sistem ini relatif sederhana sehingga tidak memerlukan tenaga/ operator dengan kualifikasi khusus untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Ditinjau dari segi biaya investasi dan operasi pemeliharaan, biaya yang diperlukan relatif rendah.

IPAL ini berlokasi dekat Pelabuhan Benoa yang terletak antara Wilayah Sanur dan Wilayah Legian-Seminyak nantinya akan menghasilkan keluaran air olahan dengan BOD kurang dari 30 mg/lt (masih lebih baik dari standar baku mutu yaitu 50 mg/lt), dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman kota atau dialirkan ke laut.

Untuk mengatasi kemungkinan adanya rembesan terhadap air tanah pada kolam aerasi dilakukan pelapisan dengan geomembrane dan geotextile (lapisan kedap air yang sangat kuat).

Lingkungan di sekitar IPAL akan ditanami pepohonan dan diberi taman sehingga nyaman untuk dilihat. Dengan demikian diharapkan bahwa kekhawatiran dan pandangan bahwa IPAL merupakan tempat yang kumuh dan kotor akan dapat dihilangkan.

IPAL tersebut juga direncanakan dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk penanaman kesadaran terhadap lingkungan bagi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.




Inlet

Inflow pumping station



Pompa di Inflow pumping station

Receiving Tank

Kolam Aerasi

Kolam Sedimentasi

Air limbah yang dihasilkan rumah tangga, perhotelan, rumah makan, dan tempat-tempat lainnya di Denpasar, Badung, Legian, dan Tabanan, disalurkan melalui pipa ke pumping station (rumah pompa) yang berada beberapa lokasi seperti di Kuta (Kuta Pumping Station) dan Sanur (Sanur pumping Station) dan berakhir ke IPAL DSDP Suwung. Dalam IPAL terdapat empat kolam yang masing-masing terdiri dari dua kolam aerasi dan dua kolam pengendapan (sedimentasi) dengan kedalaman masing-masing 4 meter. Setelah diproses, air limbah akan menajdi air biasa lagi dan untuk sementara dibuang ke laut. Kedepannya diharapkan air bersih tersebut bisa menjadi air baku untuk diolah menjadi air minum dan suplai irigasi.


Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Temesi, Gianyar



TPA Temesi Gianyar terletak ±12 km dari pusat kota gianyar / 15 menit perjalanan dari pusat kota gianyar.

PENGOLAHAN & FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH TPA TEMESI

TPA Temesi merupakan TPA Open Dumping yang wilayah kerjanya mencakup daerah kabupaten Gianyar. Sistem pengumpulan sampah, terutama sampah rumah tangga di kabupaten Gianyar, dilakukan sebagai berikut:

Tiap Rumah Tangga menyediakan tempat atau wadah sampah tertutup yang dilapisi kantong plastik, untuk menampung sampah yang tidak dapat dimanfaatkan.

Pool Container, biasanya terletak di pinggir jalan di sebuah lokasi pemukiman dan memiliki volume kurang lebih 6-10 meter kubik, berbentuk sebuah bak penampungan besi. Pool caontainer ini diangkut oleh truk dinas kebersihan dengan sistem hidrolik.

Pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dilakukan oleh dinas kebersihan. Pengangkutan sampah dilakukan dengan sistem pembagian lokasi, setiap truk pengangkut sampah mempunyai tugas di wilayah tertentu. Jenis angkut yang digunakan dalam pengangkutan sampah ke TPA antara lain:

Truk Terbuka,
memiliki kapasitas cukup besaruntuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA dengan menutup bagian atas dengan jaring atau terpal, truk jenis ini biasa beroprasi pagi hari mulai dari jam 06.30 -08.30 wita dan malam hari jam 18.30-20.30 wita.


Setibanya di TPA Temesi, sampah langsung dihamparkan dilahan seluas 2400m². Setelah dihamparkan, warga sekitar TPA Temesi yang berprofesi sebagai pemulung berdatangan dan memilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan dicacah dan hasil cacahan tersebut diendapkan selama ±3 bulan sampai menghasilkan kompos (untuk dijual dengan harga Rp. 1.000,00/Kg) dan gas metan yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Untuk pembuangan gas yang terbentuk dari degradasi bahan organik di TPA, langsung dialirkan melalui pipa yang terdapat di lapisan dasar timbunan sampah untuk langsung dilepas ke udara.

Gambar: Pemilahan sampah

Fasilitas yang disediakan di TPA Temesi (Gianyar)

THEME PARK – PUSAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN

Pendidikan lingkungan dan kesadaran masyarakat adalah kunci utama dalam mengatasi masalah lingkungan dan merubah iklim. Di fasilitas ini tersedia berbagai informasi, solusi dan alternatif dalam menangani masalah lingkungan yang terjadi. Tujuan dari Theme park adalah untuk menjadikan kunjungan ke tempat ini menarik dan tak terlupakan.

Gambar: Di dalam fasilitas Theme Park


Fasilitas lainnya yang terdapat di pusat pendidikan lingkungan, adalah:

  • Energi alternative: demontrasi energi alternatif yang masih dikembangkan seperti energi yang dihasilkan dari windmill (energi angin), photovoltaic (energi surya) dan biomassa (energi dari gas metan) disertai eksperimen.
  • Demo SODIS ( Solar Disinfection)

SODIS adalah suatu metode pengolahan air dengan memanfaatkan sinergi antara sinar UV-A dan panas matahari untuk membunuh bakteri dalam air minum yang menyebabkan diare.

Proses memasak air dengan sinar matahari adalah teknologi sederhana yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas air minum. SODIS memanfaatkan radiasi matahari untuk membunuh bakteri (pathogenic microorganism) yang menyebabkan sumber penyakit.




  • Museum: memperlihatkan incinerator yang dulu fungsinya adalah untuk membakar sampah, namun sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.
  • Waste Water Garden: untuk memproses pembuangan limbah toilet yang ada di fasilitas.


1. Unit Digeser

- Bangunan kedap gas kedap udara dengan diameter 2,8 m.

- Digunakan sebagai unit sedimentasi untuk air limbah dengan konsentrasi organik tinggi.

- Produksi gas metannya merupakan sumber dari energi terbaharui dengan volume gas 2 m3/hari.

- Berbentuk kubah atau setengah bola berfungsi untuk menangkap gas bio yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memasak atau keperluan lain seperti untuk penerangan.

2. Unit Sedimentasi

- Merupakan sistem dua ruang yang sederhana.

- Digunakan sebagai unit sedimentasi dan stabilisasi lumpur.

- Bak sedimentasi pada dasarnya adalah bak sedimentasi lumpur yang telah distabilisasi dengan penguraian anaerobik.

- Di dalam bak sedimentasi terjadi dua bentuk pengolahan, pengolahan mekanik (sedimentasi) dan pengolahan biologis (kontak dengan lumpur aktif). Sedimentasi akan terjadi dengan optimal jika aliran yang ada mengalir pelan dan tanpa gangguan. sementara pengolah biologis akan optimal jika kontak antara aliran limbah baru dan lumpur aktif (yang telah mengendap) terjadi dengan intensif.

3. Unit Anaerobic Filter

Prinsip dari reaktor anaerobic filter adalah pengolahan zat tidak terendap dan tidak terlarut dengan mengalirkannya melalui surplus massa bakteria aktif. Surplus bakteria aktif inilah yang akan menguraikan zat tersebut. Bakteri selalu menetap di suatu lokasi yang sesuai untuk mereka. Tempat menetapnya bakteri biasanya adalah pada material filter seperti krikil, batuan, atau plastik khusus disediakan dalam reaktor. Untuk IPAL sistem di Temesi ini menggunakan material filter dari batu vulcano. Ukuran batu yang biasanya dipakai adalah batu berdiameter 5-15 cm. Air limbah dialirkan dengan sistem aliran dari bawah ke atas melalui media filter secara terus menerus. Semakin luas tempat untuk berkembangnya bakteri maka semakin cepat pula proses penguraian. Permukaan kasar akan memberikan area yang lebih luas. Dalam waktu singkat bakteri yang ada dalam filter akan menutup lubang dan melapis filter. Ketika bakteri menjadi sangat tebal, maka material filter perlu dibersihkan dengan melakukan back flushed (pencucian) atau memindahkan filter untuk dibersihkan diluar reaktor. Filter Anaerobik merupakan reaktor yang dapat diandalkan dan kuat.

  • Alternatif komposting: demo berbagai
    teknik dan skala
    komposting, seperti komposting skala rumah tangga, komposting vermiculture (dengan memanfaatkan cacing), komposting skala toilet, dsb.
  • Demo Rumah Hemat Listrik

    Merupakan demonstrasi untuk menunjukan cara-cara menghemat energi dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain karena sumber energi kita yang terbatas, hal kecil yang dapat kita lakukan sehari-hari ini juga memiliki peranan penting dalam mengurangi pembentukan gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer.

  • Bamboo house: tempat beristirahat bagi para pengunjung fasilitas dan Theme Park.


  • Demo Bioreaktor

    Bioreaktor skala kecil untuk menunjukan tentang proses terbentuknya gas metan dari sampah padat dan cair yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

  • Proses Daur Ulang Kertas

    1. Berbagai macam kertas dikumpulkan untuk di daur ulang kecuali kertas yang berlapis plastik atau lilin.

    2. Sobek kertas menjadi potongan-potongan kecil.

    3. Rendam potongan kertas ke dalam air selama kurang lebih 1 hari.

    4. Potongan yang lunak ditumbuk sampai halus.

    5. Campur bubuk kertas dengan air di dalam bak, aduk hingga rata. Jika menginginkan berwarna, beri warna alami yang bahannya bisa dari kunyit, daun pandan atau batu arang. Hancurkan bahan tersebut dan campur dengan air, lalu masukkan ke dalam bak tadi.

    6. Masukkan cetakkan ke dalam bak berisi bahan tersebut kemudian diangkat. Setelah diangkat ditiriskan sejenak sampai airnya habis.

    7. Setelah cetakkan ditiriskan, bagian atas cetakan yang terisi dibalik dan diletakkan di atas kain dengan di lap secara perlahan-lahan sampai terpisah dengan cetakan.

    8. Lalu angin-anginkan kertas yang telah dicetak tersebut dampai kering tanpa sinar matahari langsung.

    9. Jika kertas telah kering, lepaskan dari kain dan dipres atau disetrika agar permukaannya halus.

    10. Hasil Akhir.




TEKNOLOGI KOMPOSTING TEMESI

Gambar: Sampah-sampah yang nantinya diolah menjadi kompos


Komposting bukanlah proses dengan teknologi yang rumit. Di Eropa dan Amerika Serikat, hanya hasil dari penguraian aerobik yang dapat disebut sebagai kompos. Produk anaerobik memiliki kualitas rendah dan hanya dapat disebut sebagai soil conditioners.

Produk kompos terjadi melalui interaksi antara mikroba dengan bahan organik, oksigen dan air. Untuk mendukung aktivitas mikroba yang optimal, kandungan kelembaban harus dijaga pada kisaran 40 – 60 % dan temperatur sekitar 650C harus dipertahankan selama mungkin. Selama keseluruhan proses, harus diperhatikan juga kandungan oksigen paling tidak mencapai 12%. Setiap minggu, kompos table harus dibalik, dicampur dan diberi air untuk menjaga kondisi tetap optimal untuk terjadinya proses komposting. Proses komposting di Temesi dilakukan dalam bentuk table, memiliki tinggi 3-4 m, lebar 30 m dan panjang 60 m. Aerasi dilakukan dengan memasang pipa pada table kompos untuk menjamin proses berlangsung dalam kondisi aerobik.

Gambar: table kompos

Adanya proses composting aerobik mencegah pembentukan dan terlepasnya gas metan ke atmosfer yang 21-23 kali lebih kuat dari pada karbon dioksida sebagai gas rumah kaca. Hal ini menjadikan komposting aerobik memiliki syarat sebagai suatu Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) dalam Protokol Kyoto.

Fasilitas pengolahan sampah Temesi yang baru seluas 2400 m2 memiliki kapasitas untuk mengolah 42,5 ton sampah organik menjadi 15 ton composting berkualitas baik setiap harinya.

Gambar: composting


Teknologi yang diterapkan adalah teknologi sederhana yang sentralisasi dengan investasi dan biaya operasional yang rendah. Tujuan proyek adalah menciptakan model yang dapat ditiru di seluruh Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara untuk mengatasi masalah sampah. Pendekatan seperti ini dapat menghilangkan maslaah mendasar dan racun dari landfill.

Gambar: pengepakan kompos



Peringkat I UNEP-2008 APFED Showcase Programme

FASILITAS Pengolahan Sampah Temesi-Gianyar teregistrasi di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) — badan PBB yang mengurus konvensi perubahan iklim — dan memenuhi syarat pengurangan emisi 77.000 ton CO2 tersertifikasi untuk periode kredit 10 tahun.

Registrasi didapatkan karena teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos memenuhi standar mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism — CDM) yang tertuang dalam Protokol Kyoto. Teknik penguraian untuk mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan teknik penguraian aerobik. Sementara manajemen fasilitas adalah Desa Adat Temesi yang membentuk Yayasan Pemilahan Sampah Temesi.

Dana karbon kredit akan digunakan untuk biaya operasional fasilitas, kontribusi ke Desa Adat Temesi, pengembangan fasilitas dan manajemen serta replikasi proyek serupa di tempat lainnya di Bali dan Indonesia. Saat ini perusahaan travel operator Swiss-Kuoni telah menyatakan kesediaannya untuk membeli CO2 dalam standar penerapan CDM proyek ini.

Atas keberhasilan ini, United Nations Environment Programme (UNEP) meloloskan proposal Gianyar Waste Recovery Project sebagai yang terbaik dari 353 proposal yang diseleksi dari negara-negara Asia-Pasifik. Proyek ini diresmikan tanggal 12 Desember 2008 dan dihadiri oleh Duta Besar Swiss dan Duta Besar Kanada.