SEMANGAT KERJA PARA BLOGGER

Rabu, 10 Juni 2009

Pengantar Mekanika Tanah

Ilmu Mekanika Tanah adalah ilmu alam pada perkembangan selanjutnya akan menjadi dasar dalam analisis dan desain perencanaan suatu pondasi. Sehingga dapat dibedakan perbedaan antara mekanika tanah dengan teknik pondasi.

Mekanika tanah adalah salah satu cabang ilmu teknik yang mempelajari perilaku tanah dan sifatnya yang diakibatkan oleh tegangan dan regangan yang disebabkan oleh gaya - gaya yang bekerja. Sedangkan Teknik Pondasi merupakan aplikasi prinsip - prinsip Mekanika Tanah dan Geologi, yang digunakan dalam perencanaan dan pembangunan pondasi seperti gedung, jembatan, jalan, bendung dan lain - lain. Oleh karena itu perkiraan dan pendugaan terhadap kemungkinan adanya penyimpangan dilapangan dari kondisi ideal pada mekanika tanah sangat penting dalam perencanaan pondasi yang benar.

Agar suatu bangunan dapat berfungsi secara sempurna, maka seorang sarjana teknik harus bisa membuat perkiraan dan pendugaan yang tepat tentang kondisi tanah dilapangan.




1. DEFINISI MEKANIKA TANAH

Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi berupa bola magma cair yang sangat panas. Karena pendinginan, permukaannya membeku maka terjadi batuan beku. Karena proses fisika (panas, dingin, membeku, dan mencair) batuan tersebut hancur menjadi butiran - butiran tanah (sifat - sifatnya tetap seperti batu aslinya : pasir, kerikil, dan lanau). Oleh proses kimia (hidrasi, oksidasi) batuan menjadi lapuk sehingga menjadi tanah dengan sifat berubah dari batu aslinya.

Disini dikenal Transported Soil, adalah tanah yang lokasinya berpindah dari tempat terjadinya yang disebabkan oleh aliran air, angin, es, dan Residual Soil (tanah yang tidak pindah dari tempat terjadinya).

Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam - macam dan berulang. Batu menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran, dan tanah bisa menajdi batu karena proses pemadatan, sementasi. Batu bisa menajdi batu jenis lain karena panas, tekanan, dan larutan.

Batuan dibedakan menjadi:

- Batuan beku (granit, basalt)

- Batuan sedimen (gamping, batu pasir)

- Batuan metamorf (marmer).

Tanah terdiri atas butir - butir diantaranya berupa ruang pori. Ruang pori dapat terisi udara atau air. Tanah juga dapat mengandung bahan - bahan sisa atau pelapukan tumbuhan atau hewan. Tanah semacam ini disebut tanah organik.

a. Perbedaan Batu dan Tanah

Batu merupakan kumpulan butir - butir mineral alam yang saling terkait erat dan kuat. Sehingga sukar untuk dilepaskan. Sedangkan tanah merupakan kumpulan butir - butir mineral alam yang tidak melekat atau melekat tidak erat, sehingga sangat mudah untuk dipisahkan. Sedangkan Cadas adalah peralihan antara batu dan tanah.

b. Jenis - jenis Tanah

Fraksi - frkasi tanah (Jenis tanah berdasarkan butir) :

1). kerikil (gravel) > 2,00 mm

2). pasir (sand) 2,00 - 0,06 mm

3). lanau (silt) 0,06 - 0,002 mm

4). lempung (clay) < 0,002 mm


Pengelompokan jenis tanah dalam praktek berdasarkan campuran butir :

1). Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir - butir tanahnya berupa pasir dan kerikil.

2). Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir - butir tanahnya berupa lempung dan lanau.

3). Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan- bahan organik.


Pengelompokan tanah berdasarkan sifat lekatnya :

1). Tanah Kohesif adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir - butirnya (tanah lempung = mengandung lempung cukup banyak).

2). Tanah Non Kohesif adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali lekatan antara butir - butirnya (hampir tidak mengandung lempung misal pasir).

3). Tanah Organik adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan - bahan organik (sifat tidak baik).


(1). Berat volume tanah kering





(2). Berat volume tanah basah




(3). Berat volume jenuh air




(4). Kadar air





(5). Kadar air jenuh







Senin, 08 Juni 2009

Instalasi Pengolahan Air Limbah - Suwung

TINGKAT PELAKSANAAN PROYEK

Apabila tidak terdapat perubahan apapun dalam pelaksanaannya, proyek ini diharapkan dapat melayani cakupan area seluas 1.199 ha (yang meliputi Denpasar 502 ha, Sanur 331 ha, dan Kuta 348 ha).

Adapun masyarakat yang dapat terlayani diperkirakan berjumlah 103.200 jiwa (masing-masing Denpasar 73.700 jiwa, Sanu 16.500 jiwa dan Kuta 13.000 jiwa), melalui pekerjaan yang akan dilaksanakan berupa

  • Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas pengolahan 51.000 m3/hari
  • Jaringan pipa air limbah (diamater 200 -1200 mm) dengan panjang total 131.120 km.
  • Rumah pompa di Sanur & Kuta
  • Sambungan Rumah (SR) sebanyak 10.000 unit.

Sampai dengan saat pencanangan dimulainya pembangunan proyek oleh Presiden, kegiatan yang telah dilaksanakan baru terbatas pada kegiatan Jasa Konsultan yang telah menelan biaya sebesar 486,14 juta Yen, sedangkan paket-paket kegiatan Konstruksi masih dalam proses.

Hal terpenting yang telah melegakan ialah dimulainya proyek ini (masih terlambat), sepenuhnya mendapat dukungan dari Gubernur Bali, Bupati Badung, Walikota Denpasar serta seluruh lapisan masyarakat, terutama yang terkena dampak pembangunan proyek ini.

SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH

Air limbah dari WC, kamar mandi dan dapur disalurkan melalui pipa yang dihubungkan dengan jaringan pipa air limbah menuju IPAL.

Penggalian dan pemasangan pipa air limbah mempergunakan metode yang sudah memperhitungkan segala aspek yang berhubungan dengan keamanan dan ketidaknyamanan, sehingga gangguan yang mungkin ditimbulkan selama pelaksanaan pemasangan pipa dapat ditekan seminimal mungkin.

Beberapa metode yang diterapkan dalam konstruksi pemasangan pipa air limbah yaitu:

  • Sistem galian terbuka tanpa turap penahan.
  • Sistem galian terbuka dengan turap kayu/baja/sheeting plate.
  • Sistem "Jacking", yang digunakan untuk perlintasan sungai, jalan yang padat lalu lintasnya dan galian yang dalam.

Pada pelaksanaan konstruksi diterapkan metode Clean Construction yaitu tanah bekas galian langsung dimuat ke dalam truck diangkut menuju stock yard (tempat penampungan).

Penggalian dengan excavator dan langsung
dimuat ke dalam truck

Pemasangan pipa tanpa turap

Pemasangan pipa dengan turap (Sheeting Plate)

Pemasangan pipa dengan sistem jacking


Setelah pipa terpasang, jalan yang telah digali dikembalikan dan diaspal lagi seperti semula (seperti kondisi sebelum digali).

Proses pemadatan bekas galian pipa

Pengaspalan pada bekas galian pipa


Pengaturan lalu lintas sangat penting dalam proyek ini mengingat pemasangan pipa dilakukan di jalan yang umumnya padat lalu lintas. Pengaturan arus lalu lintas dilakukan melalui kerjasama dengan Dinas Perhubungan/DLLAJ, Kepolisian dan bahkan dengan anggota masyarakat.

Pada pengaturan ini disiapkan beberapa fasilitas kelengkapan seperti papan peringatan lalu lintas (sign board), pembatas area kerja yang terbuat dari seng (fence), plastic cone, lampu putar dll.


Rambu-rambu lalu lintas untuk memperlancar
dan mengurangi kemacetan lalu lintas

Petugas pengatur lalu lintas berseragam,
dilengkapi dengan bendera dan alat komunikasi


Panjang pipa yang akan dipasang pada Tahap I ini adalah:

Wilayah Layanan

Tahap I

Denpasar

68,00 km

Sanur

32,40 km

Legian-Seminyak

21,70 km


SAMBUNGAN RUMAH

Sambungan Rumah meliputi jaringan perpipaan yang akan menyalurkan air limbah dari Kamar Mandi, WC, Tempat Cuci, Dapur dll menuju House Inlet (bak kontrol) yang dibangun di halaman depan rumah pelanggan.

Dari House Inlet ini, air limbah kemudian dihubungkan / disalurkan dengan pipa PVC ke pipa sewer yang ada di jalan.

1. Limbah Rumah Tangga

2. Bak Kontrol Limbah


3. Lateral Sewer

4. House Inlet

5. Main Hole

House Inlet akan berfungsi sebagai bak kontrol bagi pemeliharaan saluran air limbah dari pelanggan (rumah-tangga, Hotel, Restoran, Perkantoran dll), sehingga memudahkan apabila terjadi sumbatan dll.

House Inlet (Bak Kontrol) dan Pemeliharaannya di halaman rumah.


Untuk pemenuhan kebutuhan estetika dari para pelanggan DSDP yang sudah tidak lagi memiliki halaman, House Inlet ini dibangun dengan menyesuaikan tuntutan di lapangan agar tidak mengganggu kenyamanan pelanggan.

House Inlet di daerah pertokoan Denpasar, menyesuaikan dengan kondisi / kebutuhan awal


Sistem pengolahan air limbah DSDP ini menggunakan sistem kolam aerasi dan kolam sedimentasi. Sistem aerasi digunakan dengan maksud untuk mengurangi kebutuhan luas lahan dan meningkatkan proses pengolahan menjadi lebih cepat sekaligus meniadakan bau yang mungkin timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna.

Sistem ini relatif sederhana sehingga tidak memerlukan tenaga/ operator dengan kualifikasi khusus untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Ditinjau dari segi biaya investasi dan operasi pemeliharaan, biaya yang diperlukan relatif rendah.

IPAL ini berlokasi dekat Pelabuhan Benoa yang terletak antara Wilayah Sanur dan Wilayah Legian-Seminyak nantinya akan menghasilkan keluaran air olahan dengan BOD kurang dari 30 mg/lt (masih lebih baik dari standar baku mutu yaitu 50 mg/lt), dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman kota atau dialirkan ke laut.

Untuk mengatasi kemungkinan adanya rembesan terhadap air tanah pada kolam aerasi dilakukan pelapisan dengan geomembrane dan geotextile (lapisan kedap air yang sangat kuat).

Lingkungan di sekitar IPAL akan ditanami pepohonan dan diberi taman sehingga nyaman untuk dilihat. Dengan demikian diharapkan bahwa kekhawatiran dan pandangan bahwa IPAL merupakan tempat yang kumuh dan kotor akan dapat dihilangkan.

IPAL tersebut juga direncanakan dapat berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk penanaman kesadaran terhadap lingkungan bagi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.




Inlet

Inflow pumping station



Pompa di Inflow pumping station

Receiving Tank

Kolam Aerasi

Kolam Sedimentasi

Air limbah yang dihasilkan rumah tangga, perhotelan, rumah makan, dan tempat-tempat lainnya di Denpasar, Badung, Legian, dan Tabanan, disalurkan melalui pipa ke pumping station (rumah pompa) yang berada beberapa lokasi seperti di Kuta (Kuta Pumping Station) dan Sanur (Sanur pumping Station) dan berakhir ke IPAL DSDP Suwung. Dalam IPAL terdapat empat kolam yang masing-masing terdiri dari dua kolam aerasi dan dua kolam pengendapan (sedimentasi) dengan kedalaman masing-masing 4 meter. Setelah diproses, air limbah akan menajdi air biasa lagi dan untuk sementara dibuang ke laut. Kedepannya diharapkan air bersih tersebut bisa menjadi air baku untuk diolah menjadi air minum dan suplai irigasi.


Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Temesi, Gianyar



TPA Temesi Gianyar terletak ±12 km dari pusat kota gianyar / 15 menit perjalanan dari pusat kota gianyar.

PENGOLAHAN & FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH TPA TEMESI

TPA Temesi merupakan TPA Open Dumping yang wilayah kerjanya mencakup daerah kabupaten Gianyar. Sistem pengumpulan sampah, terutama sampah rumah tangga di kabupaten Gianyar, dilakukan sebagai berikut:

Tiap Rumah Tangga menyediakan tempat atau wadah sampah tertutup yang dilapisi kantong plastik, untuk menampung sampah yang tidak dapat dimanfaatkan.

Pool Container, biasanya terletak di pinggir jalan di sebuah lokasi pemukiman dan memiliki volume kurang lebih 6-10 meter kubik, berbentuk sebuah bak penampungan besi. Pool caontainer ini diangkut oleh truk dinas kebersihan dengan sistem hidrolik.

Pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dilakukan oleh dinas kebersihan. Pengangkutan sampah dilakukan dengan sistem pembagian lokasi, setiap truk pengangkut sampah mempunyai tugas di wilayah tertentu. Jenis angkut yang digunakan dalam pengangkutan sampah ke TPA antara lain:

Truk Terbuka,
memiliki kapasitas cukup besaruntuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA dengan menutup bagian atas dengan jaring atau terpal, truk jenis ini biasa beroprasi pagi hari mulai dari jam 06.30 -08.30 wita dan malam hari jam 18.30-20.30 wita.


Setibanya di TPA Temesi, sampah langsung dihamparkan dilahan seluas 2400m². Setelah dihamparkan, warga sekitar TPA Temesi yang berprofesi sebagai pemulung berdatangan dan memilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan dicacah dan hasil cacahan tersebut diendapkan selama ±3 bulan sampai menghasilkan kompos (untuk dijual dengan harga Rp. 1.000,00/Kg) dan gas metan yang dapat dimanfaatkan untuk memasak. Untuk pembuangan gas yang terbentuk dari degradasi bahan organik di TPA, langsung dialirkan melalui pipa yang terdapat di lapisan dasar timbunan sampah untuk langsung dilepas ke udara.

Gambar: Pemilahan sampah

Fasilitas yang disediakan di TPA Temesi (Gianyar)

THEME PARK – PUSAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN

Pendidikan lingkungan dan kesadaran masyarakat adalah kunci utama dalam mengatasi masalah lingkungan dan merubah iklim. Di fasilitas ini tersedia berbagai informasi, solusi dan alternatif dalam menangani masalah lingkungan yang terjadi. Tujuan dari Theme park adalah untuk menjadikan kunjungan ke tempat ini menarik dan tak terlupakan.

Gambar: Di dalam fasilitas Theme Park


Fasilitas lainnya yang terdapat di pusat pendidikan lingkungan, adalah:

  • Energi alternative: demontrasi energi alternatif yang masih dikembangkan seperti energi yang dihasilkan dari windmill (energi angin), photovoltaic (energi surya) dan biomassa (energi dari gas metan) disertai eksperimen.
  • Demo SODIS ( Solar Disinfection)

SODIS adalah suatu metode pengolahan air dengan memanfaatkan sinergi antara sinar UV-A dan panas matahari untuk membunuh bakteri dalam air minum yang menyebabkan diare.

Proses memasak air dengan sinar matahari adalah teknologi sederhana yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas air minum. SODIS memanfaatkan radiasi matahari untuk membunuh bakteri (pathogenic microorganism) yang menyebabkan sumber penyakit.




  • Museum: memperlihatkan incinerator yang dulu fungsinya adalah untuk membakar sampah, namun sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.
  • Waste Water Garden: untuk memproses pembuangan limbah toilet yang ada di fasilitas.


1. Unit Digeser

- Bangunan kedap gas kedap udara dengan diameter 2,8 m.

- Digunakan sebagai unit sedimentasi untuk air limbah dengan konsentrasi organik tinggi.

- Produksi gas metannya merupakan sumber dari energi terbaharui dengan volume gas 2 m3/hari.

- Berbentuk kubah atau setengah bola berfungsi untuk menangkap gas bio yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk memasak atau keperluan lain seperti untuk penerangan.

2. Unit Sedimentasi

- Merupakan sistem dua ruang yang sederhana.

- Digunakan sebagai unit sedimentasi dan stabilisasi lumpur.

- Bak sedimentasi pada dasarnya adalah bak sedimentasi lumpur yang telah distabilisasi dengan penguraian anaerobik.

- Di dalam bak sedimentasi terjadi dua bentuk pengolahan, pengolahan mekanik (sedimentasi) dan pengolahan biologis (kontak dengan lumpur aktif). Sedimentasi akan terjadi dengan optimal jika aliran yang ada mengalir pelan dan tanpa gangguan. sementara pengolah biologis akan optimal jika kontak antara aliran limbah baru dan lumpur aktif (yang telah mengendap) terjadi dengan intensif.

3. Unit Anaerobic Filter

Prinsip dari reaktor anaerobic filter adalah pengolahan zat tidak terendap dan tidak terlarut dengan mengalirkannya melalui surplus massa bakteria aktif. Surplus bakteria aktif inilah yang akan menguraikan zat tersebut. Bakteri selalu menetap di suatu lokasi yang sesuai untuk mereka. Tempat menetapnya bakteri biasanya adalah pada material filter seperti krikil, batuan, atau plastik khusus disediakan dalam reaktor. Untuk IPAL sistem di Temesi ini menggunakan material filter dari batu vulcano. Ukuran batu yang biasanya dipakai adalah batu berdiameter 5-15 cm. Air limbah dialirkan dengan sistem aliran dari bawah ke atas melalui media filter secara terus menerus. Semakin luas tempat untuk berkembangnya bakteri maka semakin cepat pula proses penguraian. Permukaan kasar akan memberikan area yang lebih luas. Dalam waktu singkat bakteri yang ada dalam filter akan menutup lubang dan melapis filter. Ketika bakteri menjadi sangat tebal, maka material filter perlu dibersihkan dengan melakukan back flushed (pencucian) atau memindahkan filter untuk dibersihkan diluar reaktor. Filter Anaerobik merupakan reaktor yang dapat diandalkan dan kuat.

  • Alternatif komposting: demo berbagai
    teknik dan skala
    komposting, seperti komposting skala rumah tangga, komposting vermiculture (dengan memanfaatkan cacing), komposting skala toilet, dsb.
  • Demo Rumah Hemat Listrik

    Merupakan demonstrasi untuk menunjukan cara-cara menghemat energi dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain karena sumber energi kita yang terbatas, hal kecil yang dapat kita lakukan sehari-hari ini juga memiliki peranan penting dalam mengurangi pembentukan gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer.

  • Bamboo house: tempat beristirahat bagi para pengunjung fasilitas dan Theme Park.


  • Demo Bioreaktor

    Bioreaktor skala kecil untuk menunjukan tentang proses terbentuknya gas metan dari sampah padat dan cair yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

  • Proses Daur Ulang Kertas

    1. Berbagai macam kertas dikumpulkan untuk di daur ulang kecuali kertas yang berlapis plastik atau lilin.

    2. Sobek kertas menjadi potongan-potongan kecil.

    3. Rendam potongan kertas ke dalam air selama kurang lebih 1 hari.

    4. Potongan yang lunak ditumbuk sampai halus.

    5. Campur bubuk kertas dengan air di dalam bak, aduk hingga rata. Jika menginginkan berwarna, beri warna alami yang bahannya bisa dari kunyit, daun pandan atau batu arang. Hancurkan bahan tersebut dan campur dengan air, lalu masukkan ke dalam bak tadi.

    6. Masukkan cetakkan ke dalam bak berisi bahan tersebut kemudian diangkat. Setelah diangkat ditiriskan sejenak sampai airnya habis.

    7. Setelah cetakkan ditiriskan, bagian atas cetakan yang terisi dibalik dan diletakkan di atas kain dengan di lap secara perlahan-lahan sampai terpisah dengan cetakan.

    8. Lalu angin-anginkan kertas yang telah dicetak tersebut dampai kering tanpa sinar matahari langsung.

    9. Jika kertas telah kering, lepaskan dari kain dan dipres atau disetrika agar permukaannya halus.

    10. Hasil Akhir.




TEKNOLOGI KOMPOSTING TEMESI

Gambar: Sampah-sampah yang nantinya diolah menjadi kompos


Komposting bukanlah proses dengan teknologi yang rumit. Di Eropa dan Amerika Serikat, hanya hasil dari penguraian aerobik yang dapat disebut sebagai kompos. Produk anaerobik memiliki kualitas rendah dan hanya dapat disebut sebagai soil conditioners.

Produk kompos terjadi melalui interaksi antara mikroba dengan bahan organik, oksigen dan air. Untuk mendukung aktivitas mikroba yang optimal, kandungan kelembaban harus dijaga pada kisaran 40 – 60 % dan temperatur sekitar 650C harus dipertahankan selama mungkin. Selama keseluruhan proses, harus diperhatikan juga kandungan oksigen paling tidak mencapai 12%. Setiap minggu, kompos table harus dibalik, dicampur dan diberi air untuk menjaga kondisi tetap optimal untuk terjadinya proses komposting. Proses komposting di Temesi dilakukan dalam bentuk table, memiliki tinggi 3-4 m, lebar 30 m dan panjang 60 m. Aerasi dilakukan dengan memasang pipa pada table kompos untuk menjamin proses berlangsung dalam kondisi aerobik.

Gambar: table kompos

Adanya proses composting aerobik mencegah pembentukan dan terlepasnya gas metan ke atmosfer yang 21-23 kali lebih kuat dari pada karbon dioksida sebagai gas rumah kaca. Hal ini menjadikan komposting aerobik memiliki syarat sebagai suatu Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) dalam Protokol Kyoto.

Fasilitas pengolahan sampah Temesi yang baru seluas 2400 m2 memiliki kapasitas untuk mengolah 42,5 ton sampah organik menjadi 15 ton composting berkualitas baik setiap harinya.

Gambar: composting


Teknologi yang diterapkan adalah teknologi sederhana yang sentralisasi dengan investasi dan biaya operasional yang rendah. Tujuan proyek adalah menciptakan model yang dapat ditiru di seluruh Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara untuk mengatasi masalah sampah. Pendekatan seperti ini dapat menghilangkan maslaah mendasar dan racun dari landfill.

Gambar: pengepakan kompos



Peringkat I UNEP-2008 APFED Showcase Programme

FASILITAS Pengolahan Sampah Temesi-Gianyar teregistrasi di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) — badan PBB yang mengurus konvensi perubahan iklim — dan memenuhi syarat pengurangan emisi 77.000 ton CO2 tersertifikasi untuk periode kredit 10 tahun.

Registrasi didapatkan karena teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos memenuhi standar mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism — CDM) yang tertuang dalam Protokol Kyoto. Teknik penguraian untuk mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan teknik penguraian aerobik. Sementara manajemen fasilitas adalah Desa Adat Temesi yang membentuk Yayasan Pemilahan Sampah Temesi.

Dana karbon kredit akan digunakan untuk biaya operasional fasilitas, kontribusi ke Desa Adat Temesi, pengembangan fasilitas dan manajemen serta replikasi proyek serupa di tempat lainnya di Bali dan Indonesia. Saat ini perusahaan travel operator Swiss-Kuoni telah menyatakan kesediaannya untuk membeli CO2 dalam standar penerapan CDM proyek ini.

Atas keberhasilan ini, United Nations Environment Programme (UNEP) meloloskan proposal Gianyar Waste Recovery Project sebagai yang terbaik dari 353 proposal yang diseleksi dari negara-negara Asia-Pasifik. Proyek ini diresmikan tanggal 12 Desember 2008 dan dihadiri oleh Duta Besar Swiss dan Duta Besar Kanada.