SEMANGAT KERJA PARA BLOGGER

Minggu, 07 Juni 2009

PENGETAHUAN UMUM TENTANG PELABUHAN

  1. Umum
    1. Definisi Pelabuhan

      Dalam Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 2001 Tentang Kepelabuhanan, Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

      Pengertian Secara Umum, Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang.

      Ditinjau dari sub sistem angkutan (Transport), maka pelabuhan adalah salah satu simpul dari mata rantai kelancaran angkutan muatan laut dan darat. Jadi secara umum pelabuhan adalah suatu daaerah perairan yang terlindung terhadap badai/ombak/arus, sehingga kapal dapat berputar (turning basin), bersandar/membuang sauh,sedemikian rupa sehingga bongkar muat atas barang dan perpindahan penumpang dapat dilaksanakan; guna mendukung fungsi-fungsi tersebut dibangun dermaga (piers or wharves), jalan, gudang, fasilitas penerangan, telekomunikasi dan sebagainya, sehingga fungsi pemindahan muatan dari/ke kapal yang bersandar di pelabuhan menuju pelabuhan selanjutnya dapat dilaksanakan.

      Secara teknis pelabuhan adalah salah satu bagian dari Ilmu Bangunan Maritim, dimana padanya dimungkinkan kapal-kapal berlabuh atau bersandar dan kemudian dilakukan bongkar muat.


  1. Fasilitas-Fasilitas Pelabuhan


    Sesuai Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 70 tahun 1996 tentang Pelabuhan dalam Pasal 8 merupakan daerah yang digunakan untuk :

    a. Fasilitas pokok pelabuhan yang meliputi :

    1. Perairan tempat labuh

    1. Kolam labuh
    2. Alih muat antar kapal
    3. Dermaga
    4. Terminal penumpang
    5. Pergudangan
    6. Lapangan penumpukan
    7. Terminal peti emas, curah cair, curah kering dan RO-RO
    8. Perkantoran untuk kegiatan pemerintahan dan pelayanan jasa
    9. Fasilitas bunker
    10. Instalasi air, listrik dan telekomonikasi
    11. Jaringan jalan dan rel kereta api
    12. Fasilitas pemadam kebakaran
    13. Tempat tunggu kendaraan bermotor

    b. Fasilitas penunjang pelabuhan yang meliputi :

    1. Kawasan perkantoran untuk mengguna jasa pelabuhan;
    2. Sarana umum;
    3. Tempat penampungan limbah;
    4. Fasilitas pariwisata, pos, dan telekomunikasi;
    5. Fasilitas perhotelan dan restoran ;
    6. Areal pengembangan pelabuhan;
    7. Kawasan perdagangan;
    8. Kawasan industri.


      Fasilitas bangunan pelabuhan adalah suluruh bangunan / konstruksi yang berada dalam daerah kerja suatu pelabuhan baik itu di darat maupun di laut yang merupakan saran pendukung guna memperlancar jalannya kegiatan yang ada dalam pelabuhan.

    1. Bangunan Pelabuhan berdasarkan letaknya:

    a. Di laut:

  • Alur pelayaran

Yaitu daerah yang dilalui kapal sebelum masuk ke dalam wilayah pelabuhan. Alur ayaran ini dibagi menjadi 2(dua) bagian yaitu (pertama) artificial channel adalah alur yang sengaja dibuat sebagai jalan masuk kapal ke dermaga dengan mengadakan pengerukan dan (kedua) natural channel yaitu alur pelayaran yang telah terbentuk sedemikian rupa oleh alam

  • Kolam
    Pelabuhan

Daerah disekitar dermaga yang digunakan kapal untuk melakukan aktivitasnya. Kolam Pelabuhan Minimal harus memiliki ukuran Panjang (L)= B + 1,4 B + 1,5 B + 30m, dan Lebar (W) = 1,5 B (dimana B = Lebar kapal) dan turning basin = 4 L tanpa tug boat dan 1,7 L sampai dengan 2 L dengan tug boat


  • Breakwater/talud

Salah satu bangunan pelabuhan yang berfungsi untuk melindungi daerah pelabuhan dari gelombang dan sedimentasi, yaitu dengan memperkecil tinggi gelombang sehingga kapal dapat berlabuh dan bertambat dengan tenang serta dapat melakukan bongkar muat dengan lancer. Talud ini dapat di bagi menjadi 3 jenis yaitu (a) penahan gelombang batu alam (rubble mounds breakwater). (b) penahan gelombang batu buatan (artificial breakwater) (c) penahan gelombang dinding tegak.

  • Dermaga

Sarana Tambatan Bagi Kapal Bersandar Untuk Bongkar/Muat Barang Atau Embarkasi/Debarkasi Penumpang

b. Di darat:

  • Jalan

adalah suatu lintasan yang dapat dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki. lintasan ini menghubungkan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Fungsi jalan adalah untuk melancarkan kegiatan bongkar muat di pelabuhan

  • Lapangan
    penumpukan
  • Gudang

adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang berasal dari kapal atau yang akan dimuat ke kapal.

  • Kantor, terminal penumpang
  • Bak air, emplasemen dll.

2.
Bangunan Pelabuhan berdasarkan prioritas pengunaannya:

a. Infrastruktur (Fasilitas Pokok)

  • Alur pelayaran
  • Kolam pelabuhan
  • Breakwater/talud
  • Dermaga
  • Jalan

b. Suprastruktur (Fasilitas Penunjang)

  • Lapangan penumpukan
  • Gudang
  • Kantor
  • Terminal penumpang, dll
  1. Klasifikasi Pelabuhan
  • Klasifikasi pelabuhan dari sudut teknis

    Dari sudut teknis, pelabuhan dapat dibagi menjadi :

  1. Pelabuhan Alam (natural and protected harbour), adalah suatu daerah yang menjurus ke dalam ('inlet') terlindung oleh suatu pulau, jazirah atau terletak di suatu teluk, sehingga nafigasi dan berlabuhya kapal dapat dilaksanakan.

    Contoh: Dumai, Cilacap, New York, Hamburg dan sebagainya.

  2. Pelabuhan Buatan (artificial harbour), adalah suatu daerah perairan yang dibuat manusia sedemikian, sehingga terlindung terhadap ombak/badai/arus, sehingga memungkinkan kapal dapat merapat.

    Contoh: Tanjung Priok, Dover, Colombo dan sebagainya.

    1. Pelabuhan Semi Alam adalah (Semi natural harbour)

    Contoh: Palembang

  • Klasifikasi pelabuhan dari sudut jasa yang diberikan

    Dari sudut jasa yang diberikan,pelabuhan dibagi menjadi:

  1. Golongan (a). Ditinjau dari pemungutan jasa-jasa:
  2. Pelabuhan yang diusahakan, yaitu pelabuhan dalam binaan Pemerintah yang sesuai kondisi, kemampuan dan pengembangan potensinya, diusahakan menurut azas hukum perusahaan.
  3. Pelabuhan yang tidak diusahakan, Yaitu pelabuhan dalam pembinaan Pemerintah yang sesuai kondisi kemampuan dan pengembangan potensinya masih menonjol sifat "overheid-zorg".
  4. Pelabuhan otonom, yaitu pelabuhan yang diserahkan wewenangnya untuk mengatur diri sendiri.


  1. Golongan (b).ditinjau dari jenis perdagangan:
  2. Pelabuhan Laut, ialah pelabuhan yang terbuka untuk jenis perdagangan dalam dan luar negeri yang menganut Undang-Undang Pelayaran Indonesia.
  3. Pelabuhan Pantai, ialah pelabuhan yang tebuka untuk jenis perdagangan Dalam Negeri.


  1. Golongan (c) Ditinjau dari jenis pelayanan kepada kapal dan muatannya.
  2. Pelabuhan Utama (mayor port), yaitu merupakan pelabuhan yang melayani kapal-kapal besar dan merupakan pelabuhan pengumpul/pembagi muatan.
  3. Pelabuhan Cabang (feeder port), merupakan pelabuhan yang melayani kapal-kapal kecil yang melayani pelabuhan utama.


  • Ditinjau dari segi penyelenggaraannya
  1. Pelabuhan Umum adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum
  2. Pelabuhan Khusus adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu


  • Ditinjau dari segi penggunaannya
  1. Pelabuhan Ikan
  2. Pelabuhan Minyak
  3. Pelabuhan Barang
  4. Pelabuhan Campuran
  5. Pelabuhan Militer


SEJARAH PELABUHAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua per tiga wilayahnya adalah perairan dan terletak pada lokasi yang strategis karena berada di persilangan rute perdagangan dunia. Sehingga peran pelabuhan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi maupun mobilitas sosial dan perdagangan di wilayah ini sangat besar. Oleh karenanya pelabuhan menjadi faktor penting bagi pemerintah dalam menjalankan roda perekonomian negara.

Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta


Pelabuhan Tanjung Priok dibangun karena sejak pertengahan 1630-an lumpur yang mengendap di muara Ciliwung merupakan problem bagi kapal-kapal untuk berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Lumpur makin menumpuk ketika terjadi gempa bumi 1699. Saat Terusan Suez dibuka dan hubungan laut makin ramai, Sunda Kelapa sudah tidak lagi dapat menampung kapal-kapal uap yang bobotnya jauh lebih besar untuk sandar. Maka dipilihlah Tanjung Priok yang lokasinya 9 km dari Sunda Kelapa. Ketika hendak dibangun, banyak para pengusaha dengan keras menentangnya. Mereka khawatir perusahaan yang banyak terdapat di sekitar Kali Besar bila gulung tikar bila pelabuhan baru dikembangkan. Tapi kekhawatiran ini tidak perlu setelah merebak isu Tanjung Priok sarang malaria dan kawasan tidak sehat.

Untuk memperlancar arus barang dari perusahaan-perusahaan yang berkantor di Kali Besar dengan komplek pelabuhan maka dibuatlah terusan (Ancol) yang dapat dilayani kapal kecil dan perahu pengangkut komoditas ekspor-impor dengan jalan kereta listrik dua jalur. Akibat hubungan arus barang yang lancar hingga mereka tidak perlu memindahkan kantornya ke Priok. Rupanya ketika itu pungli belum separah sekarang ini hingga segalanya berjalan lancar. Sejak Indonesia merdeka, di Priok dan pelabuhan lainnya dikenal istilah 'biaya siluman'. Tidak heran beberapa waktu lalu ribuan sopir demo karena sudah tidak tahan lagi merajalelanya pungli. Sementara para penyelundup bermaim 'mata' dengan berbagai aparat tanpa mengenal malu menilep uang rakyat.

Saat diresmikan, semula Priok dianggap dapat menampung semua kapal dari berbagai negera, terutama dari Eropa yang makin marak berdatangan ke Hindia Belanda. Ternyata tidak cukup besar hingga perlu dilakukan pelebaran. Pelebaran dan perluasan pertama dilakukan selama tujuh tahun (1910-1917). Seperti raksasa tak pernah kenyang pelebaran terus dilakukan di Priok. Jadilah ia sebagai pelabuhan terbesar di negeri ini. Dan, Priok pun makin makin banyak didatangi mereka yang ingin mengadu nasib. Dengan meningkatnya pelayaran maka dibangunlah KPM (Koninklijke Paketvaard Maatchappij) yang sejak 1891 merupakan perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda. Dengan ratusan armada modernnya, KPM dapat menjangkau seluruh pelabuhan di Indonesia. Yang kini menjadi tersendat-sendat setelah diambil alih dan dinasionalisasi Pelni pada 1957.

Pada 6 April 1925 dibuka stasiun baru dari Meester Cornelis (Jatinegara)-Tanjung Priok. Merupakan stasiun KA utama yang monumental dengan 8 jalur. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang, memiliki atap penutup dari beton, mirip stasiun KA Amsterdam. Pada masa itu (dan mungkin sekarang ini), saat pembukaannya dilakukan selamatan untuk seluruh karyawan dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan. Dua kepala kerbau ditanam di kedua sisi stasiun. Hal yang sama juga terjadi saat pembangunan stasiun Beos (Jakarta Kota). Kala itu masyarakat yakin bahwa tiap pembangunan proyek besar harus ada tumbal, yakni menanam kepala kerbau. Untuk mencegah jangan sampai nantinya proyek tersebut meminta korban.

Tanjung Priok di zaman Belanda adalah pelabuhan yang tertata rapi, asri dan bebas banjir, kata Ny Ashari (75 tahun) yang selama puluhan tahun tinggal di Priok. Salah satu keindahan adalah perahu-perahu milik perkumpulan Yachlt Club yang sampai tertambat berjejer di dermaga. Yacht Club yang pernah berjaya adalah perkumpulan pecinta lautan yang didirikan sejumlah warga Belanda. Yachlt Club sebuah gedung cukup megah di tepi pantai, sampai 1970-an menjadi salah satu tempat hiburan paling banyak didatangi. Kita dapat menyantap hidangan laut sambil menikmati deburan ombak. Satu lagi tempat hiburan di Priok adalah Pantai Zandvoord (orang menyebutnya Sampur). Pantainya yang bening dan belum kena polusi, di hari-hari liburan banyak dikunjungi masyarakat. Mereka yang tinggal agak jauh datang dengan naik kereta api. Letaknya sekitar 3 km dari Taman Impian Jaya Ancol, yang kala itu masih jadi tempat monyet.

BENDUNGAN PALASARI

Sejarah Bendungan Palasari

Bali barat merupakan salah satu bagian wilayah pembangunan dari 4 Wilayah Pembangunan Daerah Bali dengan luas 841,8 km2, umumnya merupakan daerah yang relatif kering dengan potensi sumber air yang relatif kecil, terutama pada musim kemarau dimana persediaan air hanya ada pada saat musim penghujan. Maka usaha pertanian terutama tanaman padi yang sangat membutuhkan air yang cukup dan teratur tidak dapat terpenuhi. Dengan potensi sumber air yang tersedia ini, maka pola tanam yang diterapkan umumnya padi-palawija atau hanya padi saja dan sering kebutuhan air didapat dari curah hujan. Disamping itu, dilihat dari keseimbangan air, Bali Barat jauh lebih kritis dibandingkan dengan Bali Selatan dengan 4 buah danau alamnya. Melihat keadaan yang demikian, maka masyarakat sangat mendambakan agar sarana air dapat tersedia dengan cukup dan teratur untuk dapat meningkatkan usaha pertanian sungai Sanghyang Gede di desa Palasari, kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana.

Melihat kenyataan tersebut pemerintah telah mengadakan survei atau studi kemungkinan pengembangan sumber air tersebut. Salah satu diantaranya adalah kemungkinan pembangunan bendungan (waduk). Setelah diadakan studi dan perencanaan yang mendalam maka telah ditetapkan pembangunan Bendungan Palasari yang berlokasi 22 km sebelah barat laut kota Negara atau 120 km sebelah barat kota Denpasar.

Bendungan ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 31 Juli 1989. Bendungan Palasari bertipe urugan batu dengan inti tanah di tengah. Tinggi bendungan di ukur dari dasar sungai adalah 39.8 m, elevasi puncak bendungan pada kurang lebih 81.8 m, panjang puncak 350 m, dengan lebar puncak 10 m, diukur dari galian pondasi terdalam tinggi bendungan menjadi 50 m. Volume total badan bendungan 720000 m3.

Batuan dasar di tapak bendungan Palasari adalah batu konglomerat, batu pasir, dan batu pasir kapuran (calcareous sandstone). Perlapisan konglomerat hampir mendatar, melapuk, dan menipis di puncak bukit dan daerah pelana. Di daerah dasar dan tebing bendungan terdapat potensi kebocoran yang perlu ditutup dengan grouting tirai dalam. Hasil pengujian permeabilitas lapangan di lokasi ini menunjukkan kisaran angka permeabilitas k antara 10-2 dan 10-5 cm/dt.


Perencanaan Bendungan Palasari

Untuk mengatasi masalah air ini, maka mulai tahun 1973 telah dilaksanakan studi dan penyelidikan kemungkinan pengembangan sumber-sumber air, baik air permukaan maupun air tanah dan mata air, yang dilaksanakan melalui Proyek Pengembangan Sumber Air Bali. Salah satu kemungkinan pengembangan sumber air adalah dengan pembangunan bendungan (waduk) yang diadakan studi oleh PT. Indah Karya bekerja sama dengan Sir. Mac Donald and partner dari Inggris.

Dalam studi ini disampaikan salah satu alternatif konstruksi bendungan, yaitu :

  1. Bendungan dari urugan tanah (Earth Fill Dam)
  2. Tinggi bendung 36 meter
  3. Kapasitas waduk efektif 6 juta m3
  4. Luas daerah irigasi 1300 Ha

Dengan alternatif ini diperoleh Economic Internal Rate of Return (EIRR) sebesar 7,8 %. Dengan memperhatikan kemungkinan teknis lainnya, mulai tahun 1980-1981 dilaksanakan studi kembali oleh konsultan Electro-Consult (ELC) Italia dengan alternatif konstruksi bendungan tipe urugan batu dengan inti tanah liat (Rock Fill Dam) dan diperoleh EIRR sebesar 10,7 %.


Pelaksanaan Pembangunan Bendungan Palasari

Pembangunan fisik Bendungan Palasari dimulai bulan Maret 1986 dan dapat diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Sebagai pelaksana pembangunan adalah kontraktor nasional PT. Brantas Abipraya Malang dan untuk pekerjaan mekanikal dilaksanakan oleh sub kontraktor PT. BBI Surabaya. Pembangunan bendungan ini menelan biaya sebesar Rp 9 Milyar yang bersumber dari pinjaman Asian Development Bank (ADB).


Data Teknis

  1. Waduk/Reservoir
  • Elevasi air (normal maksimum) : +77.0 m
  • Elevasi air (normal minimum) : +58 m
  • Luas genangan waduk : 87 Ha
  • Volume total : 8 juta m3
  • Volume efektif : 6.5 juta m3
  • Elevasi air banjir maksimum : +80.83 m
  • Luas daerah aliran : 42.30 km2
  1. Bendungan/ DAM


  • Tipe : timbunan batu inti tanah lihat (rock fill with clay core).
  • Tinggi maksimum : 39.8 m
  • Volume timbunan : 585500 m3
  • Lebar puncak : 8 m
  • Panjang puncak : 350 m
  • Elevasi puncak : +81.8 m


  1. Terowongan dan Intake


  • Panjang : 204.85 m
  • Diameter : 4 m
  • Elevasi dasar inlet : +48 m
  • Elevasi dasar outlet : + 46.5 m
  • Elevasi dasar sungai : +45 m
  • Elevasi ambang intake : +55.5 m


  1. Pelimpah (Spill way)


  • Tipe : free overflow chute / ogee spill way
  • Kapasitas maksimum : 1160 m3/dt
  • Panjang : 171 m
  • Lebar hulu : 80 m
  • Lebar hilir : 20 m
  • Elevasi mercu : +77 m


Manfaat Pembangunan Bendungan Palasari

Ditinjau secara menyeluruh Pulau Bali, maka dengan proyek ini dapat menciptakan keseimbangan tata air di daerah Bali. Seperti halnya dengan wilayah lainnya yang telah memiliki danau alam. Dengan tersedianya air akan memberikan kepastian dan jaminan bagi petani (subak) dalam melakukan kegiatan pertanian serta dapat meningkatkan areal tanam dari 370 Ha menjadi 1300 Ha yang terdiri dari 13 subak, disamping itu juga meningkatkan intensitas tanam dari pola padi-palawija menjadi dua kali padi dan sekali palawija. Dengan demikian diharapkan pula adanya peningkatan pendapatan petani.

Daerah genangan waduk yang cukup luas sekitar 87 hektar sangat bermanfaat pula bagi usaha perikanan air tawar, yang berarti akan dapat meningkatkan gizi masyarakat serta adanya usaha tambahan yang tentunya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Bali Barat yang telah memiliki beberapa objek wisata yang menarik seperti Taman Nasional Bali Barat, Pura Rambut Siwi, Wisata Bahari, serta kesenian dan kebudayaan lainnya. Dengan telah dibangunnya bendungan ini berarti akan menambah kayanya objek wisata di Bali Barat.

Dengan selesainya bendungan ini yang akan mengairi areal sawah dari beberapa subak dan kemungkinan berkembangnya subak baru, maka pembentukan subak gede sebagai wadah koordinasi sangatlah penting. Khusus untuk daerah Bali, pengelolaan air oleh subak yang berasal dari waduk baru pertama kalinya dilaksanakan. Hal ini merupakan suatu tantangan.

Dengan makin tersedianya air yang lebih mencukupi dan terjamin sepanjang musim, disamping adanya peningkatan intensitas tanam, maka dengan pelaksanaan usaha pertanian yang lengkap dan intensif diharapkan akan dapat meningkatkan hasil produksi setiap hektarnya. Lebih lanjut dapat diharapkan program pemerintah dalam mempertahankan serta lebih meningkatkan swasembada akan menjadi semakin nyata.